Mata Kuliah : Landasan Kependidikan
Program Studi : S2 IPS
Semester : Gasal 2014/2015
Jumlah SKS : 2
SKS
Dosen Pembina : Prof.
Dr. Suyahmo, M.Si
Prof.
Dr. Masrukhi, M.Pd
Hari dan Tanggal :
Take
Home Examination
Petunjuk
Pengerjaan :
1. Soal
ini merupakan ujian akhir semester, yang dikerjakan secara mandiri di rumah,
dalam waktu 3 hari.
2. Jawaban
dikirim via email masrukhiunnes@gmail.com,
paling lambat hari Rabu, tanggal 14
Januari 2015 jam 15.00 WIB.
3. Jawaban
terlambat pengirimannya dinyatakan gugur.
Naskah
Soal:
1. Praksis
pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari regulasi yang mendasarinya,
kendatipun di sana sini terdapat
improvisasi untuk meningkatkan kualitas pelaksanaannya.
a. Bagaimana
menurut pendapat saudara mengenai kebijakan
pemerintah berkenaan dengan tiga pilar praksis pendidikan ? (peningkatan
kualitas, relevansi , pemerataan dan efisiensi).
b. Mungkinkan
dalam praksis pendidikan di Indonesia diterapkan community based education secara utuh ?
2. Kualitas
pendidikan akan selalu berkenaan
dengan pemenuhan harapan stakeholders, bersifat dinamis, serta mengutamakan proses dan produk.
a. Berikan
analisis saudara mengenai kualitas
pendidikan di Indonesia, berikan contoh secara kongkritnya!.
b. Berikan
pula analisis saudara mengenai bagaimana sebaiknya upaya memperbaiki kualitas
pendidikan di Indonesia!.
3. Tujuan
pendidikan nasional seperti yang
tercantum di dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, merupakan
acuan konstitusional praksis pendidikan.
a. Berikan
analisis tujuan pendidikan nasional ditinjau dari filsafat pendidikan (progressivisme,
kostruksionisme, dan humanisme) !.
b. Sebagai
upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, menurut saudara filsafat pendidikan yang mana yang
ditonjolkan, berikan alasan!
4. Isu
lingkungan menjadi perhatian global dalam praksis pendidikan abad 21.
a. Bagaimana
saudara mensikapi isu lingkungan dalam konteks pendidikan?.
b. Bagaimana
impelemntasi isu lingkungan dalam proses pembelajaran?
++++++++++++
1. Praksis
pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari regulasi yang mendasarinya,
kendatipun di sana sini terdapat
improvisasi untuk meningkatkan kualitas pelaksanaannya.
a. Bagaimana
menurut pendapat saudara mengenai kebijakan
pemerintah berkenaan dengan tiga pilar praksis pendidikan ? (peningkatan
kualitas, relevansi , pemerataan dan efisiensi).
b. Mungkinkan
dalam praksis pendidikan di Indonesia diterapkan community based education secara utuh ?
Jawab :
a. Menurut
pendapat saya kebijakan pemerintah berkenaan dengan tiga pilar praksis
pendidikan belum optimal dilaksanakan. Hal ini biasa kita lihat dengan
rendahnya kualitas guru, kualitas lulusan, relevansi kurikulum dan dunia kerja,
pemerataan akses pendidikan dan efisiensi pendanaan. Walaupun pada
pelaksanaannya ada improvisasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah. Seharusnya
pemerintah melaksanakan sepenuh hati dan konsisten dalam menjalankan tiga pilar
praksis pendidikan tersebut. Tiga pilar praksis pendidikan itu meliputi yaitu pertama; peningkatan kualitas harus
menjadi perhatian utama yaitu perbaikan kualitas guru. Guru menjadi perhatian
utama karena walaupun kurikulum dibuat sebaik mungkin tanpa di dukung oleh
kualitas guru tidak akan berhasil di dalam peningkatan kualitas pendidikan. Kedua; relevansi lulusan menjadi
perhatian agar lulusan dapat terserap sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan
potensi daerah serta optimalisasi
kemitraan dengan dunia usaha/ industri. Ketiga; pemerataan pendidikan dan efisiensi meliputi kemudahan
aksesbilitas dan daya tampung, pemenuhan jumlah tenaga guru, optimalisasi
kinerja dan kesejahteraan guru, proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan
siswa, perbaikan sarana prasarana ruang kelas, penyediaan jumlah dan mutu buku
yang memadai.
b. Dalam
praksis pendidikan di Indonesia belum bisa diterapkan community based education secara utuh karena ketika pemerintah
melalui UU Sisdiknas mengungkapkan konsepsinya mengenai community-based
education, sebenarnya pemerintah bersikeras mengutamakan kepentingan politiknya
untuk mempertahankan kekuasaannya melalui kontrol pendidikan, bukan untuk
kepentingan masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat di Indonesia sebenarnya
telah diterapkan sejak awal secara praktis. Namun, pada tataran teoritis,
pendidikan berbasis masyarakat belum memiliki konsep dan teori yang jelas. Oleh
karena itu, pada tataran filosofis, diperlukan sebuah formulasi dan
konseptualisasi tentang apa dan bagaimana pendidikan berbasis masyarakat itu,
agar penerapan konsep ini betul-betul bebas dari dominasi dan hegemoni
kekuasaan. Ada tiga perspektif yang mencoba mencari landasan konseptual bagi
pendidikan berbasis masyarakat. Pertama; perspektif historis sebagaimana
dikemukakan Winarno Surakhmad. Menurutnya, pendidikan berbasis masyarakat
merupakan perkembangan lebih lanjut dari pendidikan berbasis sekolah. Dalam
pandangannya, “konsep pengelolaan pendidikan berbasis sekolah (PBS) adalah
konsep yang sangat mungkin perlu kita dahulukan sebagai titik tumbuh konsep
pendidikan berbasis masyarakat”. Kedua; dikemukakan oleh P.M.
Cunningham yang memandang pendidikan berbasis masyarakat dari perspektif
sosiologis. Menurutnya, pendidikan berbasis masyarakat (community-based
education) merupakan hal yang kontras dengan pendidikan masyarakat (community
education) yang diselenggarakan negara. Kalau pendidikan masyarakat
diartikan sebagai proses pendidikan untuk membangun potensi dan partisipasi
masyarakat di dalam upaya proses pengambilan keputusan secara lokal, maka
pendidikan berbasis masyarakat merupakan respon dari ketidakmampuan negara
dalam melayani penduduknya untuk menyelesaikan berbagai aktivitas pembangunan,
baik dalam bidang ekonomi, rehabilitasi, perumahan, pelayanan kesehatan,
latihan kerja, pemberantasan buta huruf, dan maupun bidang pendidikan. Premis
yang digunakan dalam pendidikan berbasis masyarakat adalah bahwa pendidikan itu
tidak dapat dipisahkan dari kultur dan masyarakat tempat pendidikan itu
terjadi. Ia senantiasa berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat (empowerment
of communities). Jarang terjadi pendidikan berbasis masyarakat
dilakukan oleh sekolah-sekolah negeri. Hal ini karena masalah pendidikan
berbasis masyarakat itu menyangkut hubungan antara kekuasaan (negara) dan
kemiskinan (masyarakat), bukan partisipasi warganegara (citizen participation)
dalam pendidikan. Oleh karena itu, paradigma yang digunakan pendidikan berbasis
masyarakat adalah paradigma konflik. Sedangkan pendidikan masyarakat senantiasa
berasaskan pada paradigma fungsionalime. Ketiga; yang dapat digunakan untuk
melihat konsep pendidikan berbasis masyarakat adalah perspektif politik. Di
antara tokohnya adalah Dean Nielsen yang menekankan bahwa pendidikan berbasis
masyarakat (community-based education) merupakan hal yang berlawanan
dengan pendidikan berbasis negara (state-based education). Hal ini
karena masyarakat dengan makna community biasanya dilawankan dengan
negara. Pendidikan berbasis masyarakat,
sebagaimana diungkapkan Sharon Murphy, senantiasa didasarkan pada teori dan
pedagogi kritis (grounded in critical theory and pedagogy). Dalam
perspektif pedagogik kritis, sebagaimana dikatakan Mansour Fakih dan Toto
Rahardjo, pendidikan harus mampu menciptakan ruang untuk mengidentifikasi dan
menganalisis secara bebas dan kritis dalam rangka transformasi sosial. Dengan
kata lain, tugas utama pendidikan bagi pendidikan kritis adalah ”memanusiakan”
kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang
tidak adil.
2. Kualitas
pendidikan akan selalu berkenaan
dengan pemenuhan harapan stakeholders, bersifat dinamis, serta mengutamakan proses dan produk.
a. Berikan
analisis saudara mengenai kualitas
pendidikan di Indonesia, berikan contoh secara kongkritnya!.
b. Berikan
pula analisis saudara mengenai bagaimana sebaiknya upaya memperbaiki kualitas
pendidikan di Indonesia!.
Jawab :
a.
Kualitas pendidikan di
Indonesia masih sangat memprihatinkan. Hal ini dapat diamati dari kualitas mutu
lulusan yang masih belum terserap lapangan kerja dan rendahnya minat untuk
berwirausaha. Proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah lebih menekankan
unsur kognitif dan masih mengabaikan aspek afektif dan psikomotor. Kualitas
pendidikan suatu negara tidak terlepas dari kerjasama tripusat pendidikan yaitu
pemerintah, sekolah dan masyarakat. Contoh kongkrit permasalahan yang tampak
adalah pemerataan kebutuhan dan kualitas
guru. Selain itu masalah kurikulum yang selalu berganti dan guru tidak siap
dengan perubahan tersebut. Sarana dan fasilitas sekolah banyak yang masih
memprihatinkan seperti gedung-gedung rusak. Dalam soal pembiayaan sering bocornya
anggaran negara untuk pembangunan pendidikan karena dikorupsi oleh oknum-oknum
tertentu. Hal ini menjadi permasalahan yang memberikan pengaruh terhadap
rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.
b.
Upaya memperbaiki
kualitas pendidikan Indonesia yaitu:
1) Memperbaiki
kualitas guru yaitu menjadi tanggungjawab lembaga penyelenggara tenaga
kependidikan (LPTK) dan pemerintah. LPTK merekrut calon-calon guru yang dididik
dengan baik agar menghasilkan calon guru yang berkualitas. Pemerintah mengawasi
kinerja LPTK dalam mempersiapkan calon guru agar kualitas dapat terjamin dengan
proses akreditasi yang ketat untuk LPTK yang ada. Selanjutnya perekrutan guru
dilakukan dengan proses seleksi ketat sehingga guru yang diterima benar-benar
berkualitas. Selain itu ketika sudah menjadi guru pemerintah punya andil dengan
melakukan pengawasan terhadap kualitas guru. Peran kepala sekolah dan pengawas
yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah dibutuhkan untuk mengawasi kinerja
yang dilakukan oleh guru.
2) Pembenahan
Kurikulum yaitu pergantian kurikulum hendaknya karena aspek kebutuhan bukan
karena pengaruh politik kepentingan kelompok tertentu. Kurikulum menjadi suatu
hal yang penting akan tetapi yang jauh lebih penting mempersiapkan kualitas
guru dan mau berubah ke arah yang lebih baik. Jangan sampai pergantian
kurikulum hanya sekedar berganti dan tidak memberikan pengaruh kepada proses
pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Walaupun kurikulum dibuat sebaik apapun
tanpa didukung guru yang berkualitas akan sia-sia.
3) Perbaikan
fasilitas dan sarana pendidikan. Masih banyak sekolah-sekolah yang
meprihatinkan terutama di daerah terpencil. Banyak peserta didik yang belajar
di ruang kelas yang rusak dengan fasilitas seadanya.
4) Pemberian
akses seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mengenyam pendidikan. Pendidikan
merupakan hak dasar setiap warga negara sehingga negara memberikan jaminan
kepada warga negaranya untuk mengenyam pendidikan.
5) Pengawasan
terhadap anggaran pendidikan agar tidak terjadi kebocoran dan tepat sasaran.
3. Tujuan
pendidikan nasional seperti yang
tercantum di dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, merupakan
acuan konstitusional praksis pendidikan.
a. Berikan
analisis tujuan pendidikan nasional ditinjau dari filsafat pendidikan (progressivisme,
kostruksionisme, dan humanisme) !.
b. Sebagai
upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, menurut saudara filsafat pendidikan yang mana yang
ditonjolkan, berikan alasan!
Jawab :
a. Tujuan
pendidikan nasional menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas yaitu
berupaya untuk dapat berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggungjawab. Apabila ditinjau dari filsafat pendidikan progresif bahwa
pendidikan bertujuan untuk kecerdasan pengetahuan dan penguasaan IPTEK. Jika
ditinjau dari filsafat pendidikan konstruktivisme bahwa pendidikan bertujuan
memenuhi kebutuhan pembangunan di masyarakat. Sedangkan bila ditinjau dari
filsafat pendidikan humanisme bertujuan membangun peradapan budaya di
masyarakat. Sehingga menurut analisis saya tujuan pendidikan nasional merupakan
hasil sinergi filsafat pendidikan progresivisme, kontruktivisme dan humanisme
yang menjadi pijakan regulasi pendidikan di Indonesia.
b. Upaya
peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia menurut saya yang perlu
ditonjolkan adalah sinergi dari filsafat pendidikan progresivisme,
konstruktivisme dan humanisme. Akan tetapi jika harus memilih salah satu yang
ditonjolkan di mana menjadi dasar utama yaitu filsafat humanisme karena fokusnya
membangun peradapan budaya di masyarakat. Jika tercapai peradapan masyarakat
yang berbudaya tentu akan tercipta manusia yang cerdas, bermoral dan humanis
sehingga dapat membangun masyarakat yang beradap. Jangan sampai pendidikan
hanya terfokus pada aspek kognitif dan menciptakan manusia-manusia robot tetapi
tidak memiliki nilai humanis tentu akan membawa pengaruh buruk bagi peradapan
manusia.
a. Bagaimana
saudara mensikapi isu lingkungan dalam konteks pendidikan?.
b. Bagaimana
impelemntasi isu lingkungan dalam proses pembelajaran?
Jawab :
a.
Isu lingkungan dalam
konteks pendidikan memang menjadi perhatian global. Globalisasi bukan saja
menjadi trend pasar dan perdagangan tetapi juga bencana terhadap lingkungan.
Kerusakan lingkungan terjadi di mana-mana. Pendidikan harus menghasilkan
manusia yang peduli terhadap lingkungannya. Pendidikan lingkungan meliputi pendidikan
alam dan lingkungan hidup. Seperti yang dikemukakan oleh Tilaar bahwa sejak
lama manusia berupaya menaklukan lingkungan alamnya, mengeksploitasi lingkungan
untuk kepentingannya sendiri. Kemajuan ilmu pengetahuan telah menyebabkan
degradasi lingkungan oleh karena kerakusan manusia yang mengeksploitasi sumber
daya alam tanpa batas. Manusia bukan lagi sebagai pelindung lingkungannya,
sekarang telah menjadi perusak lingkungan yang mengakibatkan bahaya terhadap
kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Oleh karena itu, pendidikan lingkungan berarti kesadaran
untuk memelihara lingkungan
yang merupakan sumber kehidupan dari generasi sekarang dan generasi yang akan
datang merupakan proses pendidikan. Sedangkan menurut Northern Illionis University, pendidikan
lingkungan adalah suatu proses mereorganisasi nilai dan memperjelas konsep-konsep untuk membina
keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk memahami dan menghargai
antarhubungan manusia, kebudayaan dan lingkungan fisiknya. Dari
batasan-batasan tersebut, tersirat bahwa pendidikan berwawasan
lingkungan tidak hanya pemahaman tentang perlunya keseimbangan hubungan antar
makhluk hidup dengan alamnya, tetapi juga untuk meningkatkan sikap dan nilai
positif terhadap permasalahan lingkungan, sehingga mendorong peserta didik
melakukan beberapa bentuk perbuatan langsung.
b.
Implementasi pendidikan
berwawasan lingkungan secara sederhana dan mudah dimengerti dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh peserta
didik. Dalam pelaksanaannya pendidikan berwawasan lingkungan di sekolah tidak
disajikan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri karena jumlah mata
pelajaran di sekolah sudah terlampau banyak sehingga kalau dipaksakan akan
mengganggu perkembangan kognitif dan apresiasi peserta didik terhadap pelajaran
serta mempengaruhi beban belajar siswa. Pada dasarnya pendidikan berwawasan
lingkungan secara tersirat sudah terdapat dalam beberapa mata pelajaran
terutama yang terutama yang berorientasi pada sasaran moral seperti mata
pelajaran pendidikan kewarganegaraan, agama, serta mata pelajaran yang erat
kaitannya dengan pendidikan lingkungan seperti kelompok mata pelajaran IPA dan
IPS. Sasaran pendidikan lingkungan adalah kinerja lulusan yang peduli terhadap
lingkungan dan senantiasa menjaga
keseimbangan hubungan makhluk hidup dengan lingkungannya. Hal ini selama
visi pendidikan ini dapat diwujudkan memang tidak perlu menjadi mata pelajaran
baru yang akan menambah beban peserta didik. Pendidikan berwawasan lingkungan
lebih tepat dengan pendekatan multidisiplin yang memanfaatkan beberapa konsep
dari beberapa mata pelajaran. Pendidikan berwawasan lingkungan dapat dibentuk
melalui pemberdayaan mata pelajaran yang sudah ada. Contoh : Pembelajaran IPS
berwawasan lingkungan. Cara pelaksanaannya yaitu guru IPS di tingkat SD,SLTP atau
SMU, ingin mengembangkan sikap peduli terhadap lingkungan untuk
tidak membuang limbah domestic secara sembarangan, guru perlu memberikan
contoh membuang sampah pada tempatnya. Guru bersama-sama dengan peserta didik
dan juga pihak sekolah perlu menyediakan lingkungan yang kondusif seperti
menyediakan tempat sampah, tempat cuci tangan, kemoceng di setiap kelas dan di
lingkungan sekolah serta membuat tanaman gantung atau pot-pot kecil memanjang
tepat di bawah turunnya air dari atap, sehingga air cucuran atap yang terbuang
sia-sia dapat diminimalkan. Selain itu, di setiap kegiatan pembelajaran
sebaiknya selalu diselingi kegiatan yang mengkondisikan peserta didik untuk
membuang sampah pada tempat, misalnya sebelum pelajaran di mulai kelas harus
dalam keadaan bersih dari sampah. Atau mengkondisikan peserta didik untuk
membuang dan memilah sampah organic dan non-organik. Sampah organic dapat
diolah bersama-sama guru dan siswa dengan bantuan guru IPA dan matematika,
sedangkan sampah non-organik dimasukkan pada tempat khusus yang telah
disediakan.
Casino Hotel & Racetrack - Mapyro
BalasHapusLocated on the waterfront of Bay of Pigs 울산광역 출장샵 (Tahoe) in 강원도 출장마사지 the 전라남도 출장안마 picturesque East Texas mountains. This lively casino hotel features an 세종특별자치 출장샵 expansive 고양 출장마사지