Rabu, 06 Mei 2015

MID SEMESTER LANDASAN KEPENDIDIKAN



1.       a. Hukum sebagai landasan kependidikan. Khususnya pendidikan sejarah antara Era Orde Lama dan era orde baru dalam hal sejarah penggali pancasila berbeda persepsi antara keduanya. Bagaimana komentar anda dalam hal ini jelaskan !
JAWAB :
Secara ontologis : Pancasila mengandung kebenaran, kebaikan dan kebijaksanaan yang digali dari nilai-nilai luhur masyarakat Indonesia sehingga dijadikan sebagai idiologi bangsa Indonesia.
Sedangkan secara epistimologi politik dan hukum :

Era Orde Lama
              Semenjak ditetapkan sebagai dasar negara (oleh PPKI 18 Agustus 1945), Pancasila telah mengalami perkembangan sesuai dengan pasang naiknya sejarah bangsa Indonesia .Hal ini patut dipahami, karena adanya perbedaan pendekatan, yaitu dari segi epistimologi politik dan dari segi epistimologi hukum.Tahun 1945 – 1968 merupakan tahap politis dimana orientasi pengembangan Pancasila diarahkan kepada Nation and Character Building.Hal ini sebagai perwujudan keinginan bangsa Indonesia untuk survival dari berbagai tantangan yang muncul baik dalam maupun luar negeri, sehingga atmosfir politik sebagai panglima sangat dominan.
              Disisi lain pada masa ini muncul gerakan pengkajian ilmiah terhadap Pancasila sebagai Dasar Negara misalnya oleh Notonagoro dan Driarkara. Kedua ilmuwan tersebut menyatakan bahwa Pancasila mampu dijadikan pangkal sudut pandang dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan bahkan Pancasila merupakan suatu paham atau aliran filsafat Indonesia, dan ditegaskan bahwa Pancasila merupakan rumusan ilmiah filsafati tentang manusia dan realitas, sehingga Pancasila tidak lagi dijadikan alternatif melainkan menjadi suatu imperatif dan suatu philosophical concensus dengan komitmen transenden sebagai tali pengikat kesatuan dan persatuan dalam menyongsong kehidupan masa depan bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika. Bahkan Notonagoro menyatakan bahwa Pembukaan UUD 1945 merupakan staatfundamental norma yang tidak dapat diubah secara hukum oleh siapapun.Sebagai akibat dari keberhasilan mengatasi berbagai tantangan baik dari dalam maupun dari luar negeri, masa ini ditandai oleh kebijakan nasional yaitu menempatkan Pancasila sebagai asas tunggal.

Era Orde Baru
              Secara epistimologi politik penguasa orde baru mereduksi pemerintahan orde lama. Orde baru berkehendak ingin melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen sebagai kritik terhadap orde lama yang telah menyimpang dari Pancasila. Situasi internasional kala itu masih diliputi konflik perang dingin. Situasi politik dan keamanan dalam negeri kacau dan ekonomi hampir bangkrut. Indonesia dihadapkan pada pilihan yang sulit, memberikan sandang dan pangan kepada rakyat atau mengedepankan kepentingan strategi dan politik di arena internasional seperti yang dilakukan oleh Soekarno.
              Dilihat dari konteks zaman, upaya Soeharto tentang Pancasila, diliputi oleh paradigma yang esensinya adalah bagaimana menegakkan stabilitas guna mendukung rehabilitasi dan pembangunan ekonomi. Istilah terkenal pada saat itu adalah stabilitas politik yang dinamis diikuti dengan trilogi pembangunan. Perincian pemahaman Pancasila itu sebagaimana yang kita lihat dalam konsep P4 dengan esensi selaras, serasi dan seimbang. Soeharto melakukan kesepakatan politik dengan melakukan pemahaman Pancasila melalui apa yang disebut dengan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) atau Ekaprasetia Pancakarsa. Itu tentu saja didasarkan pada pengalaman era sebelumnya dan situasi baru yang dihadapi bangsa.
          Pada awalnya memang memberi angin segar dalam pengamalan Pancasila, namun beberapa tahun kemudian kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan ternyata tidak sesuai dengan jiwa Pancasila. Walaupun terjadi peningkatan kesejahteraan rakyat dan penghormatan dari dunia internasional, Tapi kondisi politik dan keamanan dalam negeri tetap rentan, karena pemerintahan sentralistik dan otoritarian. Pancasila ditafsirkan sesuai kepentingan kekuasaan pemerintah dan tertutup bagi tafsiran lain. Demokratisasi akhirnya tidak berjalan, dan pelanggaran HAM terjadi dimana-mana yang dilakukan oleh aparat pemerintah atau negara. Pancasila seringkali digunakan sebagai legimitator tindakan yang menyimpang. Ia dikeramatkan sebagai alasan untuk stabilitas nasional daripada sebagai ideologi yang memberikan ruang kebebasan untuk berkreasi. Kesimpulan, Pancasila selama Orde Baru diarahkan menjadi ideologi yang hanya menguntungkan satu golongan, yaitu loyalitas tunggal pada pemerintah dan demi persatuan dan kesatuan hak-hak demokrasi dikekang.

b.       Budaya sebagai landasan kependidikan. Budaya daerah di Indonesia bersifat multikultural bisa jadi menghasilkan out put peserta didik yang berbeda-beda karakternya. Hal ini tidak sejalan dengan pembangunan karakter bangsa yang sedang digalakkan. Bagaimana komentar anda dalam hal ini jelaskan !
JAWAB :
Secara ontologi : Budaya setiap daerah itu baik karena merupakan hasil kesepakatan dari masyarakat setempat.
Secara epistimologi budaya :
              Budaya nasional mereduksi budaya daerah dijadikan sebagai identitas nasional. Pada perkembangannya secara imperatifkategoris yang dikedepankan adalah kepentingan bangsa diatas kepentingan daerah.Kurikulum yang dirancang secara nasional juga memberikan ruang kepada daerah untuk menyusun kurikulum muatan lokal yang sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.Kebudayaan daerah dimiliki oleh masyarakat suatu daerah dengan ciri khas yang hanya dimiliki oleh daerah tersebut.Selain itu, Kebudayaan nasional juga diambil dari sejumlah unsur yang merupakan puncak-puncak kebudayaan daerah yang kemudian diangkat menjadi kebudayaan nasional. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang beraneka ragam, maka kebudayaan nasional secara tidak langsung berfungsi sebagai berikut:
1)      Mempersatukan berbagai suku bangsa,
2)      Sebagai identitas nasional dan
3)      Sebagai sarana pergaulan antarsuku bangsa Indonesia.
              Budaya sepatutnya dijadikan sebagai alat untuk mempersatu seluruh masyarakat Indonesia menuju ke kehidupan yang lebih rukun kedepannya, dan itu semua telah tertuang dalam Pancasila (sila ke-3) ditambah lagi dengan semboyan Pancasila yaitu “Bhineka Tunggal Ika” yang memiliki makna berbeda-beda tapi tetap satu. Maka dari itu jelas bahwa peranan budaya lokal amat penting kedudukannya dalam mendukung ketahanan budaya nasional untuk mencegah terjadinya sebuah perpecahan. Dengan terwujudnya hal ini diharapkan akan terjadi sebuah interaksi sosial yang terjalin baik antar setiap individu tanpa memandang sebuah batasan.

2.     a. Teori filsafat piramida yang diajarkan oleh aristoteles tidak sejalan dengan landasan pendidikan informal dan nonformal. Bagaimana komentar anda dan jelaskan !
JAWAB :
              Terdapat 3 piramida pendidikan aristoteles, Secara umum jika seorang pendidik menggunakan landasan ini maka siswa akan banyak mengetahui pengetahuan yang luas dari tidak tahu menjadi tahu. Siswa menjadi lebih paham, cerdas, dan tahu dilihat dari nilai prestasi belajar berupa angka yang menggambarkan pemahaman.Menjadi lebih baik dan benar.
              Secara kuantitatif bahwa seberapa besar keluasan materi yang dikuasai orang banyak. Semakin keatas dari piramida itu, maka semakin sedikit  orang yang menguasai karena diperlukan pemikiran yang tinggi dengan ilmu yang tinggi pula dalam melaksanakan piramida teratas. Dengan kata lain semakin pintar orangnya maka semakin sedikit jumlahnya. Banyak ilmu yang dikuasai oleh siswa maka semakin menyusut jumlahnya karena semakin sedikit yang menguasai ilmu.Contohnya Jumlah SD lebih banyak dari SMP, SMP lebih banyak dari SMA, dan SMA lebih banyak dari S1, S1 lebih banyak dari S2 (Kuantitatif).Tetapi ilmu yang dikuasai S2 lebih banyak dari S1, ilmu yang dikuasai S1 lebih banyak dari SMA dsb.Terdapat kebalikan jumlah dari kuantitas dan kualitasnya.Secara kuantitas lebih banyak yang menguasai piramida terbawah dari pada piramida teratas, tetapi dari kualitatif jumlah ilmu yang dikuasai lebih banyak pada piramida teratas dari pada piramida terbawah.

       Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa piramida yang diajarkan oleh aristoteles lebih mengedepankan aspek kuantitas dan kualitas yang berkaitan dengan pendidikan formal.Pendidikan informal dan formal tidak menggunakan tingkatan atau jenjang seperti pendidikan formal.Padahal pendidikan informal dan non formal juga memberikan pengaruh kepada perkembangan seseorang baik kecerdasan berfikir dan pengalaman. Realitas di lapangan banyak yang berpendidikan tinggi tetapi lebih cerdas secara teoritis saja akan tetapi ketika praktek di lapangan secara pengalaman kalah oleh orang-orang yang hanya mengenyam pendidikan informal dan formal. Kecerdasan tidak hanya dibangun lewat pendidikan formal saja tetapi bisa dibangun lewat pendidikan informal dan non formal.

b.       Politik sebagai landasan kependidikan dalam aktualisasinya cenderung berorientasi pada penalaran deduktif logik. Hal demikian ini hasil outputnya akan jauh dari kualitas yang diinginkan. Bagaimana komentar anda dalam hal ini. Jelaskan !
JAWAB :
Logika deduktif logik
Premis mayor :Semua warga negara Indonesia mendapat pelayanan pendidikan yang berkualitas.
Premis minor    : Risma adalah warga negara Indonesia
Kesimpulan      : Risma mendapat pendidikan yang berkualitas
            Kesimpulan di atas adalah sah menurut penalaran deduktif karena ketepatan penarikan kesimpulan tergantung tiga hal yaitu kebenaran premis mayor, kebenaran premis minor dan keabsahan penarikan kesimpulan. Apabila salah satu dari ketiga unsur itu persyaratan tidak terpenuhi dapat dipastikan kesimpulan yang ditarik akan salah.
            Akan tetapi jika melihat silogisme di atas  penalaran deduktif logik tidak tepat karena logika deduktif mengedepankan rasio dan memerlukan konsistensi untuk menganalisis kualitas out put pendidikan. Akan tetapi ralitasnya banyak indikator-indikator lain yang menjadi penentu keberhasilan pendidikan yang bisa digali melalui pengalaman (induksi).Jika pendidikan di Indonesia menerapkan landasan pendidikan politik yang cenderung berorientasi pada penalaran deduktif logiktentu yang terlihat hanya keberhasilan semu.Epistimologi politik lebih cenderung mereduksi kebenaran untuk kepentingan tertentu.

3.   a. Hakikat pendidikan adalah mantransfer ilmu dari pendidik kepada anak didik. Jelaskan hal tersebut dalam konteks hukum kausalitas sebagaimana yang diajarkan oleh Aristoteles.
JAWAB :
            Kausalitas menyatakan hubungan yang niscaya (necessary) antara satu kejadian (cause) dengan kejadian lainnya (effect) yang adalah konsekuensi langsung dari yang pertama.Bagi Aristoteles dalam kejadian mengoperasikan 4 penyebab yaitu penyebab efisien, penyebab final, penyebab material dan penyebab formal. Dalam penyebab efisien (causa efficiens) sumber kejadian menjadi  faktor yang menjalankan atau menggerakkan kejadian. Dalam penyebab final (causa finali) tujuannya yang menjadi sasaran sebuah kejadian.Dalam penyebab material (causa materialis) bahan dari mana benda tertentu dibuat menjadi penyebab kejadian.Sementara dalam penyebab formal (causa formal) bentuk tertentu ditambahkan pada sesuatu sehingga sesuatu itu memiliki bentuk tertentu.
            Dalam kaitannya  dengan hakikat pendidikan adalah  mentransfer dari pendidik kepada anak didik dalam konteks hukum kausalitas yang diajarkan oleh  Aristoteles adalah sebagai berkut :
Pendidik adalah penyebab efisien; pendidik menstranfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik dengan tujuan menjadikan siswa dari tidak bisa menjadi bisa.Tujuan finalnya adalah menjadikan siswa yang cerdas (pengetahuan, sosial, moral, spiritual). Murid adalah penyebab material, sementara itu keadaan siswa yang ada dalam pikiran sang pendidik penyebab formal kini telah ditransformasikan ke dalam materi tertentu yang disebut murid. Aristoteles sangat yakin kausalitas ada dalam setiap kejadian terjadi karena tiga faktor yaitu ada sesuatu tetap (substratum), ada keadaan sebelumnya, dan ada keadaan kini. Guru, murid, kurikulum, gedung atau sarana prasarana dan proses pembelajaran adalah sesuatu yang tetap ada, keadaan sebelumnya memberikan pengaruh kepada hasil yang diperolehdanada keadaan kini merupakan pengaruh dari keadaan sebelumnya.

b.       Geografi sebagai landasan kependidikan. Jepang geografinya lebih kecil daripada Indonesia, tetapi warga Jepang lebih relatif cerdas daripada Indonesia. Mengapa hal ini bisa terjadi, jelaskan pendapat anda !
JAWAB :
Secara ontologi pendidikan bertujuan untuk mencetak manusia yang cerdas.
Secara epistimologi pendidikan di Indonesia lebih mengarah kepada keberhasilan semu.Hal ini terjadi karena pendidikan belum dilakukan secara konsisten.Keadaan ini berbanding terbalik dengan Jepang yang sangat memegang teguh tradisi, memiliki etos kerja yang tinggi serta pendidikan dijalankan secara konsisten.Agar pendidikan di Indonesia dapat berhasil mencetak warga negara yang cerdas maka pendidikan harus dijalankan secara konsisten.Pelaku pendidikan (aparat negara) harus berkualitas, bermoral dan jujur.





4.       a. P4 yang sekarang dibubarkan itu apakah bisa dijadikan sebagai landasan kependidikan. Jelaskan pendapat anda !
JAWAB :
Secara ontologiP4  mengandung nilai yang sangat baik dan bisa diterapkan.
Secara epistimologi hukum P4 tidak dapat digunakan karena sudah dihapuskan oleh pemerintah era reformasi.Secara epistimologi politik era reformasi mereduksi pemerintahan era orde baru. Nilai-nilai yang mengandung butir-butir pancasila secara tidak langsung juga diterapkan akan tetapi namanya yang dirubah dan menyesuaikan dengan kebutuhan sekarang. Kalau kita resapi Kompetensi Inti (KI) KI 1, KI 2, KI 3, KI 4 dalam kurikulum 2013 merupakan hasil reduksi dari nilai P4.

b. Hakikat kodrat manusia adalah “monopluralis” yang mengedepankan keseimbangan, keselarasan dan keserasian jiwa raga, individu sosial, makhluk mandiri-makhluk Tuhan. Apakah bisa dijadikan landasan pendidikan. Jelaskan pendapat anda !
JAWAB :
Hakikat kodrat manusia “monopluralis” bisa dijadikan sebagai landasan pendidikan Indonesia.Hakikat manusia menurut Pancasila adalah makhluk monopluralis yang mengedepankan keseimbangan, keselarasan dan keserasian jiwa raga, individu sosial, makhluk mandiri-makhluk Tuhan.Monopluralis artinya terdiri dari banyak segi tetapi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.Pembangunan pendidikan nasional sebagai upaya peningkatan manusia secara totalitas aspek jiwa, raga, pribadi, sosial dan aspek Ketuhanan yang sejalan dengan Pancasila. Secara ontologiPancasila berisinorma moral yang mengandung kebaikan dan kebenaran. Sedangkan secara epistimologi pendidikan menempatkan pancasila sebagai norma moral yang absolut sehingga pendidikan harus sejalan dengan Pancasila.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar